Rakatalenta

Kekuatan Semangat Vs Takdir Allah


سَوابِقُ الهِمَمِ لا تَخْرِقُ أَسْوارَ الأَقْدَارِ 
Kekuatan semangat yang luar biasa tidak bisa menembus pagar takdir.

Ini adalah penjelas dari hikmah sebelumnya, dan alasan bagi hikmah yang berikutnya. Tidak semua orang di masa ini akan setuju dengan penjelasan di atas, tetapi secara faktual dan logis, itu benar-benar terjadi.
Sekuat apapun semangat seseorang untuk mengubah hidupnya pada masa mendatang tidak akan ada manfaatnya bila tanpa izin Allah. Allah-lah yang menentukan seluruh jalan kehidupan ini hingga ke detail terkecilnya. Ketentuan itu dicatat sejak zaman azali, yaitu zaman mula-mula ketika makhluk belum diciptakan. Allah-lah yang menentukan siapa orang tua anda, bagaimana kemampuan ekonomi mereka dan ekonomi anda, seberapa hebat kemampuan otak anda, dalam lingkungan bagaimanakah anda tumbuh, pengalaman-pengalaman apakah yang akan anda dapat sebagai pelajaran dan wawasan dan seterusnya.
Seorang motivator atau inspirator mungkin akan memberikan contoh bagaimana seorang Bill Gates (pemimpin Microsoft) mampu menjadi orang terkaya di dunia dengan kerja kerasnya meskipun sebelumnya dia hanya orang biasa yang bahkan putus kuliah. Pertanyaannya, apakah hanya Bill Gates yang mempunyai semangat dan etos kerja seperti itu? Jawabannya tentu saja tidak, ada banyak sekali orang yang punya semangat kerja yang menggebu tapi tidak mampu menjadi seperti Bill Gates karena faktor-faktor di luar kemampuannya. Apakah dia yang bersemangat itu tidak mau keluar dari keterbatasan-keterbatasannya? Tentu saja sangat mau, tetapi ada batas-batas yang tidak bisa ditembusnya. Itulah takdir Allah. Bila seorang yang berusaha dan berdoa mendapati hidupnya berubah, maka hakekatnya bukan dia yang merubah hidupnya sendiri tetapi Allah yang berkehendak merubahnya karena dengan sifat Maha Pengasihnya, Dia menganugerahi usaha dan doa orang itu dengan keberhasilan.
Ada beberapa orang khusus di dunia ini yang mampu membelah lautan, berbicara dengan hewan, berkekuatan luar biasa, terbang seperti burung, melewati jarak ratusan kilometer dalam sekali kedipan mata, menghidupkan orang mati dan lain-lain yang luar biasa. Orang-orang khusus ini tidak melakukan itu semua dengan kemampuannya sendiri, melainkan dengan izin Allah, Sang Penguasa semua kejadian. Allah memberikan kemampuan luar biasa itu sebagai Mukjizat bagi para Nabi, karamah bagi para Waliyullah (kekasih Allah), pertolongan bagi orang beriman, dan istidraj (pembiaran dalam kehinaan) bagi para tukang sihir dan ahli maksiat.
Karena itu, buanglah seluruh perasaan hebatmu, keangkuhanmu, kesombonganmu, perasaan berjasamu, kisah kepahlawananmu dan segala perasaan yang membuatmu merasa melebihi orang lain. Merendahlah di hadapan-Nya yang telah memberikan kelebihan bagimu dan memberikan beragam ujian dan kegagalan yang akhirnya membuatmu banyak belajar dan semakin kuat serta matang.
لا حول ولا قوة إلا بالله  
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.

[Sumber: http://situswahab.wordpress.com/2011/04/14/hikmah-3/]

Tajrid dan Kehendah Allah

إرادتُكَ التجريدَ مع إقامةِ الله إِيَّاكَ في الأسباب من الشَّهوة الخفيةِ وإرادتُكَ الأسبابَ مع إقامةِ الله إِيَّاكَ في التجريد انحطاطٌ عن الهِمَّةِ العَلَيَّةِ 

Keinginanmu untuk meninggalkan pekerjaan-pekerjaan duniawi di saat Allah menempatkanmu sebagai para pekerja adalah termasuk syahwat (hawa nafsu) yang samar. Sedangkan keinginanmu untuk sibuk dalam pekerjaan duniawi di saat Allah menempatkanmu di tingkatan orang yang meninggalkan pekerjaan duniawi adalah pemerosotan dari semangat yang luhur. Dalam dunia sufi, Tajrid adalah pengasingan diri dari urusan-urusan duniawi untuk sepenuhnya fokus pada urusan-urusan akhrawi/akhirat. Tajrid adalah salah satu tingkatan tinggi yang dapat dicapai oleh seorang salik (penempuh jalan Allah). Tingkat ini membutuhkan ketawakkalan, kesabaran dan kegigihan untuk mendekatkan diri kepada Allah yang luar biasa. Karenanya, tidak semua orang dapat mencapai tingkat ini. Terkadang, seorang salik (pelaku latihan keshufian)yang belum siap betul kualitasnya mempunyai keinginan hati untuk bertajrid dan meninggalkan seluruh kegiatan duniawinya dengan tujuan bisa naik ke tingkatan yang lebih tinggi, padahal waktu itu Allah menempatkannya dalam posisi sebagai pekerja duniawi. Ini sesungguhnya adalah syahwatnya yang samar. Disebut samar karena maksudnya adalah baik, dan disebut syahwat (hawa nafsu) karena dia keinginannya bertentangan dengan penempatan Allah terhadap dirinya. Ciri-ciri Allah menempatkan seseorang dalam tingkatan para pekerja duniawi adalah Allah menyibukkannya dengan hal itu dalam waktu yang lama dan menjadikan pekerjaan itu sebagai kebutuhan pokoknya yang tidak bisa ditinggalkan sepenuhnya. Keinginan untuk bertajrid pada orang-orang semacam ini sejatinya adalah bisikan setan agar orang itu kacau kehidupannya karena memang dia belum siap untuk tingkatan itu. Sebagian orang yang kualitas dirinya telah begitu baik; ilmu, amal dan riyadlahnya/penempaan dirinya telah melebihi kebanyakan orang, ditempatkan Allah dalam tingkatan Tajrid. Allah telah memudahkan rizkinya dengan cara yang tidak bisa dimengerti oleh akal tanpa dia harus mencarinya dan memberinya banyak waktu luang untuk beribadah tanpa dia harus sibuk dengan urusan-urusan duniawi yang dapat memalingkan konsentrasinya dari Allah. Bila orang-orang semacam ini masih juga berkeinginan untuk sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan duniawi, maka ini adalah pemerosotan dari semangat yang luhur. Keinginannya termasuk syahwatnya yang nyata. Terhadap orang-orang spesial seperti ini, setan membisikkan rayuan-rayuannya agar dia terlibat kembali dalam urusan duniawi seperti dengan mengatakan bahwa tajrid adalah aib, tajrid dapat menimbulkan ketidak tenangan karena tidak bekerja, tajrid dapat membuat seseorang menginginkan harta pemberian dari orang lain dan sebagainya. Setiap orang hendaknya menerima setiap kehendak Allah setulus hatinya tanpa menginginkan yang lain. Bila dia diposisikan sebagai para pekerja duniawi, maka tetap kerjakan urusan-urusan duniawinya dengan baik tanpa mengorbankan urusan-urusan akhiratnya. Dalam pekerjaan itulah ketenangannya untuk beribadah diberikan oelh Allah. Sebaliknya, bila seseorang telah ditempatkan dalam posisi tajrid dan dia dapat merasa tenang di posisi itu karena kualitas dirinya yang sudah begitu mulia, maka tidak selayaknya dia terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan duniwi yang dapat menyibukkan dirinya hingga intensitasnya untuk ber-taqarrub (mendekati Allah) berkurang.

[ Sumber:  http://situswahab.wordpress.com/2011/04/13/hikmah-2/]

Amal Bukanlah Patokan

Amal Bukanlah Patokan.

من علامة الاعتمادِ على العَمَلِ نُقْصانُ الرَّجاءِ عند وجودِ الزَّللِ

Termasuk tanda-tanda berpatokan pada amal (ibadah pribadi) adalah berkurangnya harapan (rahmat dari Allah) ketika terjadi kesalahan.

Seringkali dipersepsikan bahwa amal ibadah manusia adalah patokan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Konsekuensinya, ketika seorang hamba melakukan maksiat, maka harapannya terhadap rahmat Allah berkurang karena dia merasa tidak pantas mendapatkannya. Tetapi, pandangan semacam ini adalah pandangan kaum awam. Yang seharusnya dijadikan patokan sebenarnya adalah keridloan Allah semata. Inilah pandangan kaum ‘arifin (orang-orang yang mengenal Allah).
Seorang hamba yang baik hendaknya tidak melihat pada amal perbuatannya sendiri karena sesungguhnya amal perbuatan itu tidak ada artinya dan tidak mungkin terjadi tanpa restu Allah. Seorang ‘arif tidak akan merasa lebih layak untuk mendapat rahmat Allah ketika dirinya mengerjakan banyak amal baik dan tidak akan merasa semakin jauh dari rahmat-Nya ketika melakukan kesalahan. Pada saat yang sama, ketakutannya terhadap Allah tidak akan berkurang sedikitpun karena telah menjauhi semua larangan-Nya.
Allah-lah satu-satunya penyebab semua hal dapat terjadi. Allah yang menciptakan manusia beserta perbuatannya (al-Shaffat: 96). Segala amal kebaikan hendaknya tidak disandarkan kepada diri sendiri karena semua hanya dapat terjadi atas kehendak Allah. Jangan sesekali seorang hamba merasa menjadi orang mulia yang berhak atas surga karena telah melakukan berbagai kebajikan dan menjauhi segala larangan. Sebaliknya, ketika seorang hamba melakukan maksiat, hendaknya dia merasa takut akan ancaman Allah yang dijanjikan padanya tanpa menunda-nunda taubat karena merasa semakin jauh dari surga.

[Sumber: http://situswahab.wordpress.com/2011/04/13/hikmah-1/]